PENYAKIT JANTUNG KORONER

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

VERBATIM PASIEN TERMINAL DALAM PASTORAL CARE

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

VERBATIM UNTUK PASIEN TERMINAL

 

Setelah konselor masuk ke kamar konseli, konselor menutup pintu kamar sambil konseli sambil mengawali percakapan dengan berkata, “Selamat pagi.”

 

Ko       : (sambil berjalan menuju ke tempat tidur, lalu duduk di kursi berhadapan dengan konseli). Sebelumnya saya mau bertanya dahulu bagaimana kabar kamu? Tapi ini bukan basa-basi ya (sambil tersenyum bergurau)

Ki      : Iya, saya tahu (sambil tertawa). Kabar saya baik-baik saja, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ko     : Baguslah kalau begitu. Sekarang ceritakanlah sedikit kepada saya tentang bagaimana keadaan kesehatanmu?

Ki2    : Dari kemarin dia murung terus suster, tidak mau makan dan tidak mau minum. Apa-apa selalu salah untuk dia.

Ko     : Kamu katakana sedikit pada saya, apakah ini ada hubungannya dengan dengan sakitmu?

Ki      : (mengangguk)

Ko     : Saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Memang tidak mudah menerima kenyataan sakit seperti yang kamu alami. Tetapi kamu juga harus semangat untuk membantu proses penyembuhan penyakitmu.

Ki      : (sambil tetap cemerut). Suster sich ngomong aja gampang. Coba kalau suster mengalami seperti saya. Suster pasti juga berbuat yang sama seperti apa yang saya lakukan.

Ko     : (terdiam) Memang tidak mudah mengalami hal seperti kamu. Tapi kamu tidak boleh putus asa.

Ki      : Kenapa harus saya yang mengalami ini? Kenapa harus saya yang menderita seperti ini. Kenapa bukan orang lain? Apa salah saya?

Ko     : (sambil memegang tangan pasien) Tidak ada yang salah dengan dirimu. Semua yang ada pada dirimu baik-baik saja kok. Tuhan memberikan anugerah ini bukan karena Tuhan membenci kamu, tapi ini merupakan anugerah yang harus disyukuri. Katanya kamu selalu bersyukur pada Tuhan.

Ki      : Saya selalu bersyukur! Tapi menerima cobaan seperti ini saya juga harus bersyukur? Kapan dong penyakitnya pergi, kalau saya syukuri?

Ko     : Rejeki, jodoh, maut, semua Tuhan yang atur. Jadi bersyukur tidak hanya pada saat senang saja, tetapi pada saat dianugerahi cobaan, kita juga harus bersyukur. Kita tinggal berdoa saja, memohon pada Tuhan supaya kita kueat menghadapi cobaan ini.

Ki      : Tapi saat ini saya khan lagi sibuk ujian. Gimana saya bisa konsentrasi belajar, kalau kondisi saya seperti ini. Sepemtara yang lain bisa bermain, jalan-jalan dengan teman-temannya, bisa tertawa lepas. Sedangkan aku, bisanya Cuma terbaring di tempat tidur, tidak berdaya.

Ko     : Saya yakin, pasti kamu tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi sakt ini. Kamu orangnya baik, mudah bergaul dan pandai. Pasti nanti banyak teman-temanmu yang mau membantu kamu.

Ki      : Membantu? Itu khan pada saat saya sehat. Pada saat saya juga bisa sedikit membantu mereka? Tapi, sekarang? Saya tidak bisa erbuat apa-apa. Apakah teman-teman masih ada yang mau membantu saya?

Ko     : Loh, jangan salah. Teman-temanmu sangat baik sama kamu lho. Buktinya kemarin mereka ada yang datang meminjamkan catatannya untuk kamu. Itu sudah merupakan bukti baha teman-temanmu baik dan kamu sangat disayang oleh teman-temanmu.

Ki      : Ya, terimakasih. Saya pasti akan sangat membutuhkan bantuan dari teman-teman semua.

Ko     : Sekarang kamu terlihat begitu bersemangat. Bagaimana dengan program terapi selanjutnya?

Ki      : Saya tadinya takut dengan semua program terapi yang ditawarkan dokter. Masak saya masih muda harus menjalani kemoterapi dengan efeksamping dan risiko yang mengerikan. Terus, bagaiman nanti saya harus menghadapi perjumpaan dengan teman-teman? Mereka pasti mentertawakan saya, karena saya kurus, wajahnya jelek, rambutnya gundul. Wah, pasti semua orang senang mengejek saya.

Ko     : Lho, kenapa pikiranmu begitu? Kamu sudah mendapat bukti khan, kalau teman-temanmu baik? Mereka mau meminjamkan buku catatan, itu saja sudah merupakan bukti bahwa teman-temanmu baik. Saya yakin pasti teman-temanmu akan selalu membantu kamu di kampus, baik dalah perkuliahan maupun dalam penampilanmu.

Ki      : Bagaimana dengan rambutku yang gundul?

Ko     : Kamu khan bisa memakai tutup kepala. Apalagi masalahnya?

Ki      : Baik, saya pasti akan sangat membutuhkan bantuanmu. Saya akan menjalani terapi yang diprogramkan oleh dokter.

Ko     : Saya kagum dengan semangat yang kamu miliki. Pasti semangat itu yang mendorong kamu untuk tetap bersemangat menghadapi penyakitmu.

Ki      : Ya, kamu memang benar. Semangat itu mendorong saya juga untuk menghadapi masa-masa sulit yang saya alami.

Ko     : Kamu katakana tadi, masa-masa sulit. Memangnya apa yang terjadi?

Ki      : Saya masih muda, masih semangat untuk menggapai cita-cita. Saya merasa selalu hidup sehat, rajin ke gereja, rajin ikut kegiatan di kampung, berusaha bersikap baik kepada siapapun. Tapi saya harus mendengar berita bahwa saya menderita kanker darah. Padahal saya tahu, penyakit ini belum ada obatnya. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya merasa Tuhan tidak mendengarkan saya, saya merasa Tuhan itu tidak ada. Tapi keluarga sangat baik dengan saya. Mereka selalu mendampingi saya setiap saya. Mereka selalu mendoakan saya dan membesarkan hati saya. Itu yang membuat saya bersemangat.

Ko     : Syukurlah, kalau kamu sadar dengan peristiwa ini. Pasti hal ini tidak lepas dari dukungan orang tua dan keluargamu juga khan?

Ki      : Ya, mereka sangat mendukung saya. Sejak kecil mereka sangat mendukung saya.

          Saya yakin ini adalah rencana Tuhan. Sulit bagi saya sebelumnya untuk mengerti kenapa saya dianugerahi penyakit seperti ini. Tetapi kemudian saya sadar bahwa sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk saya.

Ko     : saya senang karena kamu mampu menilai setiap hal dan menarik pelajaran positif dari dalamnya.

Ki      : (konseli tersenyum)

Ko     : Dari keseluruhan percakapan ini saya senang karena kamu mampu menilai segala sesuatu secara positif dan tidak menyerah, meskipun kamu menghadapi permasalahan. Dan sekarang saya ingin bertanya kepadamu, apakah kamu mendapat manfaat dari percakapan ini?

Ki      : Ya, saya  senang dengan percakapan ini, karena kamu sudah bersedia mendengar semua cerita saya. Selain itu saya juga termotivasi dari percakapan ini untuk terus maju dan tidak menyerah dalam menjalankan hidup ini. Saya mendapat pelajaran yang berharga untuk saya lakukan dalam kehidupan saya.

Ko     : itulah yang saya harapkan terjadi dalam percakapan ini. Terakhir, sebelum kita mengakhiri percakapan ini, bolehkan saya berdoa untuk kamu:?

Ki      : Ya, tentu saja. Saya senang sekali kalau kamu mau berdoa untuk saya.

Ko     : Baiklah, marilah kita berdoa.

 

Percakapan pastoral selesai.

 

 

 

FISIOLOGI MUSKULOSKELETAL

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

FISIOLOGI

SISTEM MUSKULOSKELETAL

  1. A.  Fisiologi Sistem Tulang

Sistem musculoskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan ngurus pergerakan. Komponen utama dari sistem musculoskeletal adalah jaringan ikat. Sistem ini terdiri dari tulang,sendi,otot rangka,tendon,ligament,bursa,dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.

a.Fungsi umum tulang:

Secara umum, fungsi tulang adalah sebagai berikut:

  1. Formasi kerangka

Tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan ukuran tulang dan menyokong struktur tubuh yang lain.

2.Formasi sedi-sendi

Tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional.Sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-macam pergerakan.

3.Perlekatan otot

Tulang-tulang menyediakan permukaan untuk tempat melekatnya otot,tendo,dan ligamentum. Untuk melaksanakan pekerjaan yang layak dibutuhkan suatu tempat melekat yang kuat dan untuk itu disediakan oleh tulang.

4.Sebagai pengungkit

Untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakkan.

5.Penyokong berat badan

Memelihara sikap tegak tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang sehingga dapat menjadi kaku dan lentur.

6.Proteksi

Tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur-struktur yang halus seperti otak,medulla spinalis,jantung,paru-paru,alat-alat dalam perut,dan panggul.

7.Haemopoiesis

Sum-sum tulang merupakan tempat  pembentukan sel-sel darah, tetapi terjadinya pembentukan sel-sel darah sebagian besar terjadi disumsum tulang merah.

8.Fungsi immunologi

Limfosit B dan makrofag-makrofag dibentuk dalam system retikuloendotelial sum-sum tulang.Limfoist B diubah menjadi sel-sel plasma yang membentuk antibody guna keperluan kekebalan kimiawi, sedangkan makrofag merupakan fagositotik.

9.Penyimpanan kalsium

Tulang mengandung  97% kalsium tubuh, baik dalam bentuk anorganik maupun dalam bentuk garam-garam, terutama kalsium fosfat. Sebagian besar fosfor disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila dibutuhkan.

b. Fungsi khusus tulang

Secara khusus mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada khusus pada suara.
  2. Email gigi dikhususkan un tuk memotong, menggigit, dan menggilas makanan. Email merupakan struktur yang terkuat dari tubuh manusia.
  3. Tulang-tulang kecil telinga berfungsi sebagai pendengaran dalam mengonduksi gelombang suara.
  4. Panggul wanita dikhususkan untuk memudahkan proses kelahiran bayi.

c. Perkembangan dan osifikasi tulang

Perkembangan tulang berasal dari jenis perkembangan membranosa dan perkembangan kartilago. Proses peletakan jaringan tulang(histogenesis) disebut ossifikasi(penulangan). Jika proses ini terjadi dalam suatu model selaput dinamakan penulangan intramembranosa dan tulang yang dibentuk dinamakan tulang membrane atau tulang dermal karena tulang ini berasal dari suatu membrane. Tulang-tulang endokondral(tulang kartilago) merupakan tulang yang berkembang dari penulangan suatu model tulang rawan. Penulangan ini disebut pebulangan intrakartilaginosa(penulangan tidak langsung). Jenis-jenis penulangan intramembranosa merupakan suatu proses yang mendesak sedangkan jenis penulangan intrakartilaginosa merupakan proses yang berjalan perlahan-lahan dan berencana:

1)      Pusat osifikasi

Awal pembentukan tulang terjadi pada bagian tengah dari suatu tulang yang disebut pusat penulangan primer,selanjutnya terjadi penulangan sekunder. Pusat primer timbul sangat dini pada kehidupan  janin terjadi akibat perangsangan genetic. Pusat penulangan sekunder tampak pada ujung tulang panjang dan tulang besar selalu tampak stetlah kelahiran.Perangsangan pusat sekunder dilaksanakan oleh tekanan atau tarikan ujung-ujung tulang.Bila anak sudah mulai bergerak maka tekanan pada sendi terjadi pada ujung sendi sehingga menimbulkan tarikan tendo pada tempat terjadinya tarikan.Hal ini paling banyak terjadi pada masa pubertas dan hanya sedikit setelah umur 20 tahun. Pada bagian yang paling ujung dari epifise tersisa selapis tulang rawan hialin yang tidak menjadi tulang keras,tetapi selalu tampak sebagai rawan persendian. Rawan ini tidak dibungkus oleh selaput dan merupakan suatu permukaan yang licin untuk pembentukan sendi-sendi synovial.

2)      Ujung pertumbuhan tulang

Epifise bersatu dengan diafise,biasanya terjadi pada umur 18-20 tahun. Pusat-pusat epifise(dalam pusat penulangan sekunder) akan menyatu dengan diafise hingga terjadi pada tulang-tulang yang lain. Pertumbuhannya berjalan terus selama beberapa tahun setelah pertumbuhan ujung tulang yang lain berhenti. Korpus dari semua tulang-tulang panjang dan besar memperlihatkan akhir dari suatu alur yang berfungsi sebagai suatu lubang pada tulang yang disebut yang disebut foramen nutrisia.Pada orang hidup foramen nutrisia digunakan pada arteri nutrisia untuk memasuki korpus. Tulang-tulang anggota badan atas berjalan menuju siku,sedangkan tulang-tulang anggota bawah berjalan menuju  lutut sehingga ujung pertumbuhan tulang berlawanan dengan arah jalannnya arteri nutrisia.

3)      Suplai peredaran darah tulan

1.Suplai peredaran darah untuk tulang-tulang panjang adalah sebgai berikut:

a. Arteri nutrisia

Arteri tunggal yang berbelok-belok dan masuk foramen nutrisia oblik katas atau kebawah menuju kearah yang berlawanan untuk pertumbuhan tulang.Satu arteri disertai dengan 1-2 buah vena. Selama dalam korteks,arteri memberikan cabang-cabang menuju kanalis havers.

b. Arteri priosteale

Arteri kecil yang menyuplai priosteum dan berjalan sepanjang perlengketan otot.

c. Arteri metapisiale

Rangkaian yang membentuk anatomosa diskeliling sendi yang disebut sirkulus vaskulosus. Cabangnya masuk melalui foramena vaskularis,tempat keluarnya vena-vena epifise.

2. Suplai peredaran darah untuk tulang-tulang gepeng. Arteri epifisiale adalah sebuah arteri nutrisia tunggal dan bercabang-cabang dan sejumlah cabangnya menyuplai substansia spongeosa dalam substansia kompakta tulang.

3. Suplai peredaran darah untuk tulang-tulang iga. Arteri nutrisi memasuki tulang distalis dari tuberkulum costa dan membagi diri menjadi cabang-cabang anterior longgus dan posterior brevis yang menyuplai seluruh bagian tulang iga.

4. Suplai peredaran darah untuk tulang-tulang vertebra. Terdapat 2 buah arteri yang besar yang memasuki permukaan posterior corpus vertebra.Arkus neuralis disuplaim oleh pembuluh darah yang memasuki prosesus transverses bercabang menuju prosesus spinosus. Foramena untuk vena vertebralis terdapat  pada permukaaan posterior korpus vertebra.

4) . Aliran getah bening

Pada sum-sum tulang tidak terdapat aliran getah bening, tetapi periosteum dan sistem havers mempunyai pembuluh getah bening yang berjalan sepanjang pembuluh darah dan menyalurkan isinya menuju kelenjar getah bening regional (daerah tertentu).

5). Suplai persarafan

Tulang-tulang disuplai oleh serabut-serabut saraf  vasomotor. Periosteum sangat sensitive terhadap rangsangan umum dan sangat banyak disuplai oleh serabut saraf somatosensoris, terutam ujung sendi tulang panjang.

d. Factor yang mempengaruhi pertumbuhan tulang

1. Herediter (genetic)

Tinggi badan anak secara umum tergantung dari orangtua.Anak-anak yang dilahirkan dari orangtua yang tinggi biasanya mempunyai badan yang tinggi juga.

2. Factor nutrisi

Suplai bahan makan yang mengandung kalsium,fosfat,protein,dan vitamin A C D adalah hal yang penting untuk generasi pertumbuhan tulang serta untuk memelihara rangka yang sehat.

3. Factor-faktor endokrin

a. Paratiroid hormone(PTH)

Satu sama lain saling berlawanan dalam memelihara kadar kalsium darah sehingga merangsang terjadinya PTH dengan cara:

-merangsang osteoplas reabsorbsi tulang dan melepas kalsium kedalam darah

-merangsang absorbsi kalsium dan fosfat dari usus

-meresorbsi kalsium dari tubulus renalis.

b. Tirokalsitonin adalah  hormon yang dihasilkan sel-sel parafolikuler dari kelenjar tiroid. Cara kerjanya menghambat resorbsi tulang.

c. Hormon pertumbuhan. Hormon ini dihasilkan hipofise anterior dan penting untuk proliferase(bertambah banyak) secara normal dari rawan epifisealis untuk memelihara tinggi badan yang normal.

d. Tiroksin. Tiroksin bertanggung jawab dalam pertumbuhan tulang yang layak, remodeling tulang dan kematangan tulang.

4. Faktor persarafan.

Gangguan suplai persarafan mengakibatkan penipisan tulang sperti yang terlihat pada kelaianan poliomyelitis.

5.Faktor mekanis.

Kekuatan dan arah dari tuberkula tulang ditentukan oleh gaya-gaya mekanis yang bekerja padanya.

6.Penyakit-penyakit mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan tulang.

e.Biologi tulang

Susunan tulang terdiri dari sel-sel, matrik organic, dan mineral.Mineral ini terdiri dari kolagen dan bahan dasar yang mengandung monopolisakarida pada komponen matriks inilah mengendapnya kristalloid yang terdiri dari kalsium dan fosfat.Sel-sel tulang terdiri dari ostiosid, osteoblas dan osteoklast.Setiap sel ini mempunyai fungsi khusus yang letaknya pun berbeda-beda. Kristal tulang terdiri dari beberap komponen atau bagian yaitu:

a. Kristal bagian dalam(Kristal interior), terdiri dari ion-ion.

b. Permukaan Kristal(Kristal permukaan) mengandung kation dan anion yang spesifik.

c. Lapisan yang mengandung air(hidration shell) mengandung lapisan anion yang tidak spesifik, selalu dalam keadaan seimbang dan dinamis dengan medium sekitarnya.

Komponen lain yang penting dalam tulang adalah glikogen. Glikogen mempunyai deposisi garam-garam anorganik dalam  tulang rawan tempat sel-sel tulang rawan mengalami hipertrofi sehingga didapati kadar glikogen yang tinggi didaerah tersebut. Bila enzim-enzim yang memegang peranan dalam siklus glikolisis dihambat kerjanya maka proses klasifikasi juga terhambat dalam proses pertumbuhan dan pembentukan tulang terdapat 2 macam proses.

–          Osifikasi mendokondral

Setelah terbentuknya epifise yang masih dalam keadaan tulang rawan pertumbuhan tulang ini ditandai dengan pertumbuhan tulang rawan dan degenerasi dalam epifise.

–          Osifikasi membrane

Proses integrasi seluler pembentukan tulang baru diatas permukaan korteks telah dibentuk terlebih dahulu pada saat terjadinya proses resorbsi tulang kedua, cara berlangsung secara simultan. Proses pertama terjadi resorbsi matriksnya dan proses kedua berlangsung pelarutan hidroksiapatik yang diikuti terbebasnya garam kalsium fosfat. Factor yang paling berperan adalah osteoklas yang dikenal sebagai pembuang tulang(sel perusak tulang) dan mempunyai kemampuan fagosit. Osteoklas menghasilkan zat yang dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi atau dibebaskannya garam-garam dan asam fosforik pada tulang yang berakibat larutnya atau dibebaskannya kalsium dalam tulang.

Zat lain yang mempunyai kaitan dengan metabolism tulang adalah asam sitrat. Kadar asam sitrat didapati lebih tinggi dikawasan korteks diafise dari tulang panjang bahan organic yang cukup penting didalam pertumbuhan tulang adalah glikogen.Glikogen merupakan bagian dari tulang rawan dan tulang yang sedang tumbuh. Bila dalam suatu proses klasifikasi glikogen ditiadakan atau keaktifannya dicegah maka proses klasifikasi akan terhenti.

B. SENDI

Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot. Terdapat tiga tipe sendi :

  1. Sendi fibrosa (sinatrodial), merupakan sendi yang tidak dapat bergerak.
  2. Sendi kartilaginosa (amfiatrodial), merupakan sendi yang dapat sedikit bergerak.
  3. Sendi sinofial (diartrodial), merupakan sendi yang dapat digerakkan dengan bebas.

a. Sendi Fibrosa

 

Sendi fibrosa tidak memiliki lapisan tulang rawan, dan tulang yang satu dengan tulang lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa.Salah satu contohnya adalah sutura pada tulang-tulang tengkorak.Contoh yang kedua disebut sindesmosis dan terdiri dari suatu membran introseus atau suatu ligamen diantara tulang.Serat-serta ini memungkinkan sedikit gerakan tetapi bukan merupakan gerakan sejati.Perlekatan tulang tibia dan fibula bagian distal adalah suatu contoh dari tipe sendi fibrosa ini.

 

 

 

 

b.Sendi Kartilaginosa

Sendi Kartilaginosa adalah sendi dimana ujung-ujung tulangnya dibungkus oleh tulang rawan hialin, disokong oleh ligamen dan hanya dapat sedikit bergerak. Ada dua tipe sendi kartilaginosa :

1. Sinkondrosis adalah sendi-sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh tulang rawan hialin. Sendi-sendi kastrokondral adalah contoh dari sinkondrosis.

2. Simfisis adalah sendi yang tulang-tulangnya memiliki suatu hubungan fibrokartilago dan selapis tipis tulang rawan hialin yang menyelimuti permukaan sendi. Simfisis fubis dan sendi-sendi pada tulang punggung adalah contoh-contohnya.

c.Sendi Sinovial

 

Sendi sinovial adalah sendi-sendi tubuh yang dapat digerakkan.Sendi-sendi ini memiliki rongga sendi dan permukaan sendi dilapisi tulang rawan hialin.

Kapsul sendi terdiri dari suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam yang terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak, dan sinosium yang membentuk suatu kantong yang melapisi seluruh sendi, dan membungkus tendon-tendon yang melintas sendi.Sinofium tidak meluas melampaui permukaan sendi, tapi terlipat sehingga memungkinkan gerak sendi secara penuh.Lapisan-lapisan bursa di seluruh persendian membentuk sinofium.Periosteum tidak melewati kapsul sendi.

Sinofium menghasilkan cairan yang sangat kental yang membasahi permukaan sendi.Cairan sinofial normalnya bening, tidak membeku, dan tidak berwarna.Jumlah yang ditemukan pada tiap-tiap sendi relatif kecil (1-3 ml).Hitung sel darah putih pada cairan ini normalnya kurang dari 200 sel/ml dan terutama adalah sel mononuklea.Asam hialuronidase adalah senyawa yang bertanggung jawab atas viskositas cairan sinosial dan sintesis oleh sel-sel pembungkus sinofial.Bagian cairan dari cairan sinofial diperkirakan berasal dari transudatplasma.Cairan sinofial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang rawan sendi.

Kartilago hialin menutup bagian tulang yang menanggung beban tubuh pada sendi sinofial.Tulan rawan ini memegang peranan penting dalam membagi beban tubuh.Rawan sendi tersusun dari sedikit sel dan sejumlah besar subtstansi dasar.Substansi dasar ini terdiri dari kolagen tipe II dan proteoglikan yang ditemukan pada tulang rawan.Proteoglikan yang ditemukan pada tulang rawan sendi sangat hidrofilik, sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang berat.

Tulang rawan sendi pada orang dewasa tidak mendapat aliran darah, limfe atau persarafan. Oksigen dan bahan-bahan metabolisme lain dibawa oleh cairan sendi yang membasahi tulang rawan tersebut. Perubahan susunan kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelah cidera atau usia bertambah. Beberapa kolagen baru pada tahap ini mulai membentuk kolagen tipe I yang lebih fibrosa.Proteoglikan dapat dihilangkan sebagian kemampuan hidrofiliknya. Perubahan-perubahan ini berarti tulang rawan akan kehilangan kemampuannya untuk menahan kerusakan bila diberi beban berat.

Sendi dilumasi oleh cairan sinofial dan oleh perubahan-perubahan hidrostatik yang terjadi pada interstisial tulang rawan. Tekanan yang terjadi pada tulang rawan akan mengakibatkan pergeseran cairan ke bagian yang kurang mendapatkan tekanan. Sejalan dengan pergeseran sendi ke depan, cairan yang bergerak ini juga bergeser ke depan mendahului beban. Cairan kemudian akan bergerak ke belakang kembali ke bagian tulang rawan ketika tekanan berkurang. Tulang rawan sendi dan tulang-tulang yang membentuk sendi biasanya terpisah selama gerakan selaput cairan ini.Selama terdapat cukup selaput atau cairan, tulang rawan tidak dapat aus meskipun dipakai terlalu banyak.

Aliran darah ke sendi banyak yang menuju ke sinosium.Pembuluh darah masuk melalui tulang subkondral pada tingkat tepi kapsul.Jaringan kapiler sangat tebal di bagian sinosium yang menempel langsung pada ruang sendi.Hal ini memungkinkan bahan-bahan di dalam plasma berdifusi dengan mudah ke dalam ruang sendi. Proses peradangan dapat sangat menonjol di sinosium, karena di daerah tersebut banyak mendapat aliran darah, dan disamping itu juga banyak sel mast dan sel lain dan zat kimia yang secara dinamis berinteraksi untuk merangsang dan memperkuat respon peradangan.

Saraf-saraf anatom dan sensorik tersebar luas pada ligamen, kapsul sendi, dan sinosium.Saraf-saraf ini berfungsi untuk memberikan sensitifitas pada struktur-struktur ini terhadap posisi dan pergerakan.Ujung-ujung saraf pada kapsul, ligamen, dan adventisia pembuluh darah sangat sensitif terhadap peregangan dan putaran.Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau sinosium cenderung difus dan tidak terlokalisasi.Sendi dipersarafi oleh saraf-saraf perifer yang menyeberangi sendi.Ini berarti nyeri dari satu sendi mungkin dapat dirasakan pada sendi lainnya.Misalnya, nyeri pada sendi panggul dirasakan sebagai nyeri lutut.

JARINGAN PENYAMBUNG

Jaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah-daerah yang berdekatan terutama adalah jaringan penyambung yang tersusun dari sel-sel dan substansi dasar.Dua macam sel yang ditemukan pada jaringan penyambung adalah sel-sel yang tidak dibuat dan tidak berada pada jaringan penyambung, seperti sel mast, sel plasma, limfosit, monosit dan leukosit polimorfonuklea.Sel-sel ini memegang peranan penting pada reaksi-reaksi imunitas dan peradangan yang terlihat pada penyakit-penyakit rematik.Jenis yang kedua dalam jaringan penyambung adalah sel-sel yang tetap berada di dalam jaringan seperti fibroblast, kondrosit dan osteoblast.Sel-sel ini mensintesis berbagai macam serat dan proteoglikan dari substansi dasar dan membuat tiap jenis jaringan penyambung memiliki susunan sel yang tersendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia Anderson. 1995. Patofisiologi konsep klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC

PROSES PEMBENTUKAN TULANG

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Urutan proses pembentukan tulang (osifikasi) sebagai berikut.

a. Tulang rawan pada embrio mengandung banyak osteoblas, terutama pada bagian tengah epifisis dan bagian tengah diafisis, serta pada jaringan ikat pembungkus tulang rawan.

b. Osteosit terbentuk dari osteoblas, tersusun melingkar membentuk sistem Havers. Di tengah sistem Havers terdapat saluran Havers yang banyak mengandung pembuluh darah dan serabut saraf.

c. Osteosit mensekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang. Setelah mendapat tambahan senyawa kalsium dan fosfat tulang akan mengeras.

d. Selama terjadi penulangan, bagian epifisis dan diafisis membentuk daerah antara yang tidak mengalami pengerasan, disebut cakraepifisis. Bagian ini berupa tulang rawan yang mengandung banyak osteoblas.

e. Bagian cakraepifisis terus mengalami penulangan. Penulangan bagian ini menyebabkan tulang memanjang.

f. Di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoblas yang merusak tulang sehingga tulang menjadi berongga kemudian rongga tersebut terisi oleh

SENTRIOL

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

SEL

Kata “sel” itu sendiri dikemukakan oleh Robert Hooke yang berarti “kotak-kotak kosong”, setelah ia mengamati sayatan gabus dengan mikroskop. Selanjutnya disimpulkan bahwa sel terdiri dari kesatuan zat yang dinamakan Protoplasma. Istilah protoplasma pertama kali dipakai oleh Johannes Purkinje; menurut Johannes Purkinje protoplasma dibagi menjadi dua bagian yaitu Sitoplasma dan Nukleoplasma. Robert Brown mengemukakan bahwa Nukleus (inti sel) adalah bagian yang memegang peranan penting dalam sel, Rudolf Virchow mengemukakan sel itu berasal dari sel (Omnis Cellula E Cellula).

ANATOMI DAN FISIOLOGI SEL

Secara anatomis sel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Selaput Plasma (Membran Plasma atau Plasmalemma)

Yaitu selaput atau membran sel yang terletak paling luar yang tersusun dari senyawa kimia Lipoprotein (gabungan dari senyawa lemak atau Lipid dan senyawa Protein).
Lipoprotein ini tersusun atas 3 lapisan yang jika ditinjau dari luar ke dalam urutannya adalah:Protein –Lipid – Protein Þ Trilaminer Layer. Lemak bersifat Hidrofebik (tidak larut dalam air) sedangkan protein bersifat Hidrofilik (larut dalam air); oleh karena itu selaput plasma bersifat Selektif Permeabel atau Semi Permeabel (teori dari Overton). Selektif permeabel berarti hanya dapat memasukkan di lewati molekul tertentu saja. Fungsi dari selaput plasma ini adalah menyelenggarakan Transportasi zat dari sel yang satu ke sel yang lain. Khusus pada sel tumbahan, selain mempunyai selaput plasma masih ada satu struktur lagi yang letaknya di luar selaput plasma yang disebut Dinding Sel (Cell Wall). Dinding sel tersusun dari dua lapis senyawa Selulosa, di antara kedua lapisan selulosa tadi terdapat rongga yang dinamakan Lamel Tengah (Middle Lamel) yang dapat terisi oleh zat-zat penguat seperti Lignin, Chitine, Pektin, Suberine dan lain-lain. Selain itu pada dinding sel tumbuhan kadang-kadang terdapat celah yang disebut Noktah. Pada Noktah/Pit sering terdapat penjuluran Sitoplasma yang disebut Plasmodesma yang fungsinya hampir sama dengan fungsi saraf pada hewan.

  1. Sitoplasma dan Organel Sel.

Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma, khusus untuk cairan yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma, sedang bagian yang padat dan memiliki fungsi tertentu digunakan Organel Sel. Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel. Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma dan bersifat hidup (menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

Organel sel tersebut antara lain :

  1. Retikulum Endoplasma
  2. Ribosom
  3. Mitokondria
  4. Lisosom
  5. Badan golgi
  6. Sentriol
  7. Plastid
  8. Vakuola
  9. Mikrotubulus
  10. Mikrofamen

 3. Inti Sel (Nukleus).

Inti sel terdiri dari bagian-bagian yaitu  Selaput Inti (Karioteka), Nukleoplasma (Kariolimfa), Kromatin/Kromosom, Nukleolus (anak inti). .Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel yaitu: Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti), misalnya dijumpai pada bakteri, ganggang biru. Sel eukariotik (sel yang memiliki selaput inti). Fungsi dari inti sel adalah: mengatur semua aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang berisi ADN yang mengatur sintesis protein.

SENTRIOL/SENTROSOM

Sentriol adalah sebuah organel berbentuk tabung yang biasa ditemukan hewan bersel eukariotik. Dinding sel di setiap sentriol biasanya terdiri dari sembilan dan 3 pasang mikotubulas (protein sitoskeleton). Sentriol yang berpasangan, diatur secara tegak lurus dan diselimuti oleh gumpalan besar tidak berbentuk yang terbuat dari material-material padat yang mendasari struktur persenyawaan yang biasa diketahui sebagai sentrosom. Sentriol merupakan organel sel yang tidak ikut aktif dalam metabolisme sel, tetapi memegang peran penting dalam proses pembelahan sel. Setiap sel baik sel hewan maupun tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan sentriol yang terdapat di dekat membrane inti sel dan berbentuk silinder dengan diameter 200 nanometer dan panjang 400 nanometer. Pasangan sentriol ini terdapat dalam satu kesatuan dan akan mengadakan replikasi pada waktu sel akan membelah. Kemudian masing-masing sentriol akan menuju ke kutup pembelahan. Sentriol ini masing-masig akan diikuti oleh bagian-bagian inti yang kemudian membentuk inti baru yang berjumlah dua buah.

Sentriol ditemukan oleh Edouard Van Beneden di tahun 1883 dan digambarkan serta diberi nama pada tahun 1888 oleh Theodor Boveri. Sentrosome terdiri dari dua sentriol ortogonal diatur dikelilingi oleh massa amorf protein disebut bahan pericentriolar (PCM). PCM mengandung protein yang bertanggung jawab untuk nukleasi mikrotubulus dan penjangkaran termasuk γ-tubulin, pericentrin dan ninein.

 

Peran dari Sentrosom

Setnriol diantara banyak organel-organel yang menolong sel eukariotik untuk berjalan dengan lancar. Sel eukariotik adalah sel komplek dengan sejumlah organ sel miniatur yang semua melayani fungsi berbeda. Sel eukariotik juga mempunyai inti sel dan struktur fisik yang komplek yang menyisihkannya dari sel prokariotik seperti yang dipunyai bakteri. Manusia diantara binatang lain dibuat dari sel eukariotik dan sel ini pada waktu-waktu tertentu membagi untuk memperbaharui sendiri agar inti sel mereka yang lebih besar bisa tunbuh dan tetap sehat.. Sentrosome berhubungan dengan membran nuklir selama profase siklus sel. Dalam mitosis membran nukleus rusak dan mikrotubulus bernukleus. Sentrosom dapat berinteraksi dengan kromosom untuk membangun gelendong mitosis. Pada sentriol ibu, salah satu yang diwariskan dari sel ibu, juga memiliki peran sentral dalam membuat silia dan flagela.

Sentrosom ini disalin hanya sekali per siklus sel sehingga setiap sel anak mewarisi satu sentrosom, berisi dua sentriol. Sentrosom bereplikasi selama fase S dari siklus sel. Selama profase dalam proses pembelahan sel yang disebut mitosis, sentrosome bermigrasi ke kutub yang berlawanan dari sel. Gelendong mitosis kemudian membentuk antara dua sentrosome. Setelah divisi, masing-masing sel anak menerima satu sentrosom. Kesalahan selama proses ini bisa membuat sel yang diubah, yang dengan tidak membahayakan mungkin mati satu demi satu atau menjadi lebih ganas, tergantung pada mutasi.

 

Sentrosom perubahan pada sel kanker

Identifikasi pada akhir abad ke-19, sentrosome sering diubah dalam sel kanker. Ini pengamatan awal kemudian diperluas untuk berbagai jenis tumor manusia.  Perubahan sentrosom pada kanker dapat dibagi dalam dua sub kelompok, penyimpangan struktural atau numerik, namun keduanya dapat secara bersamaan ditemukan dalam tumor.

Angka penyimpangan

Kehadiran jumlah inadekuat dari sentrosome sangat sering dikaitkan dengan penampakan ketidakstabilan genom dan hilangnya diferensiasi tissular. Namun, metode untuk menghitung jumlah sentrosom (masing-masing dengan 2 sentriol) sering tidak sangat tepat, karena sering pemeriksaan menggunakan mikroskop fluoresensi, yang kapasitas resolusi bukan yang terbaik. Namun demikian, jelas bahwa kehadiran supernumerary (lebih) sentrosomes adalah peristiwa yang umum pada tumor manusia. Telah diamati bahwa hilangnya protein p53 penekan tumor menghasilkan centrosomes supernumerary, serta deregulasi protein lain yang terlibat dalam tumorigenesis pada manusia, seperti BRCA1 dan BRCA2.

Selama pembelahan sel menghasilkan peningkatan dalam jumlah kromosom dan fusi sel (misalnya karena infeksi oleh virus tertentu). Mungkin peningkatan jumlah sentrosom karena kegagalan selama pembelahan sel. Mungkin lebih sering daripada banyaknya “primer” cacat dalam satu sel: deregulasi dari siklus sel DNA yang rusak atau metabolisme kromatin, kegagalan dalam pembelahan sel, dan peningkatan dalam jumlah Sentrosom sebagai efek “sekunder”.

 

Evolusi Sentrosom

Sejarah evolusioner dari sentrosom dan sentriol telah dilacak untuk beberapa gen tanda tangan, misalnya yang sentrins.  Sentrins berpartisipasi dalam pensinyalan kalsium dan diperlukan untuk sentriol duplikasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mitchell, Campbell, reece. (2002). Biologi. Jakarta: CV. Erlangga

Zulfa,Juniarto Achmad. (2002). Biologi Sel. Jakarta: ECG

http://slemgaul.wordpress.com/2009/04/10/struktur-dan-fungsi-sel/

Di akses tanggal 4 September 2012

TANDA TANDA VITAL

•17 Oktober 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam melakukan pengkajian terhadap pasien, pengukuran tanda vital merupakan aspek yang sangat penting. Tanda-tanda vital meliputi: suhu, nadi, pernafasan, tekanan darah, dan nyeri sering disebut tanda-tanda vital yang ke-5. Perubahan tanda vital dapat menunjukkan perubahan pada kondisi kesehatan pasien. Normalnya tanda vital berubah karena dipengaruhi oleh: umur, sex, berat badan, aktifitas, dan kondisi (sehat/sakit).

Pengukuran tanda-tanda vital:

  1. Sesuai permintaan, untuk melengkapi data dasar pengkajian
  2. Sesuai permintaan dokter
  3. Sekali sehari, bila klien dalam kondisi stabil
  4. Setiap 4 jam sekali, bila ditemukan salah satu tanda vital yang tidak normal
  5. Setiap 5-15 menit, bila ditemukan tanda vital tidak stabil atau berisiko mengalami perubahan fisiologi secara cepat pada klien post operasi
  6. Ketika kondisi klien tampak berubah
  7. Setiap menit atau lebih sering, bila ada perubahan signifikan dari pengukuran sebelumnya.
  8. Ketika klien merasa tidak seperti biasa
  9. Sebelum, selama dan setelah tranfusi
  10. Sebelum pemberian obat yang mempengaruhi perubahan tanda-tanda vital.
  1. Suhu

Suhu tubuh menunjukkan kehangatan tubuh manusia. Timbulnya panas tubuh karena adanya latihan dan metabolism makanan. Panas tubuh akan hilang melalui kulit, paru, dan produk sisa melalui proses radiasi, konduksi, konveksi, dan eaporasi.

Suhu tubuh mencerminkan keseimbangan antar produksi panas dan kehilangan panas, dan diukur dalam unit panas derajat.

Suhu tubuh ada 2 macam:

  1. Suhu inti

Yang berada di dalam jaringan tubuh: rongga abdomen dan rongga pelvic. Suhu inti relatif konstan.

  1. Suhu permukaan

Merupakan suhu kulit, sub kutan dan lemak sub kutan. Suhu permukaan akan naik dan turun merespon terhadap lingkungan.

       Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi panas:

  1. BMR:

Jumlah energy yang digunakan tubuh untuk melakukan aktifitas utama, seperti: bernafas

  1. Aktivitas otot:

Termasuk menggigil, meningkatkan metabolisme rate

  1. Tyroxine output:

Meningkatnya output tyrroxine akan meningkatkan metabolism sel seluruh tubuh.

  1. Stimulasi / respon epinefrin, norepinefrin, simpatis.

Hormon ini dengan seketika meningkatkan metabolisme sel di beberapa jaringan tubuh.

  1. Fever.

Meningkatkan jumlah metabolisme tubuh.

       Mekanisme kehilangan panas:

  1. Radiasi

Adalah pemindahan panas dari permukaan obek tertentu ke permukaan obyek yang lain tanpa adanya kontak antara kedua obyek. Yang paling sering adalah dengan sinar infra merah (atau penyebaran panas dengan gelombang elektromagnetik)

  1. Konduksi

Adalah perpindahan panas ke obyek lain melalui ontak langsung

  1. Evaporasi (penguapan)

Adalah perubahan dari cairan menjadi uap. Seperti cairan tubuh dalam bentuk keringat menguap dari kulit.

  1. Konveksi

Adalah penyebaran panas oleh karena pergerakan udaradengan kepadatan yang tidak sama. Orang yang mengunakan kipas angin.

Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh

  1. Cardian Rhythm

Perubahan fisiologs, seperti perubahan suhu dan tanda-tanda vital yang lain selain flukfutif;  pagi lebih rendah dibandingkan sore hari, suhu tubuh berfluktuasi 0,28 0 – 1,10 C selama periode 24 jam

  1. Usia,

Suhu tubuh bayi dan anak–anak berubah lebih cepat dalam merespon perubahan panas dan dingin.

  1.  Hormonal

Perempuan cenderung lebih flluktuatif dibandingkan dengan laki lak, karena perubahan hormon.

  1. Stress

Respon tubuh terhadap sters fisik dan emosi akan meningkatkan produksi epinefrin dan norepinefrin, sehingga mengakibatkan peningkatan metabolism rate dan terjadi peningkatan suhu tubuh.

       Suhu tubuh normal:

  1. Suhu permukaan: 36,8⁰ – 37,4⁰ C (96,6 -99,3 F)
  2. Suhu inti : 36,4⁰ – 38⁰ C (97,5⁰ – 100,4⁰ F)

Suhu diukur dengan termometer. Thermometer yang paling dikenal adalah Celcius (C), Reamur (rankine) (R), Fahrenheit (F), Kelvin (K), dengan perbandingan antara satu dan lainnya mengikuti. C:R:F-32) = 5:4:9

Contoh: ⁰C = 5/9 (F-32) dan F = 9/4R + 32

Pengaturan suhu

     Suhu manusia dikendalikan oleh Hipothalamus. Hipotalamus anterior berfungsi mengatur hilangnya panas dengan cara vasodilatasi dan bengkak. Hipotalamus posterior berfungsi memproduksi dan menyimpan panas dengan cara:

  1. Menyesuaikan dengan sirkulasi darah
  2. Piloerectile (mengatur konstriksi atau dilatasi pori-pori kulit)
  3. Menggigil

     Hipotalamus meningkatkan produksi panas dengan cara meningkatkan metabolism melalui sekresi hormon tyroid, yaitu epinefrin dan norepinefrin medulla adrenalis.

     Dalam keadaan normal, hipotalamus menjaga suhu inti “set point” (suhu tubuh optimal) sebesar 1⁰C oleh perubahan suhu permukaan tubuh dan darah. Suhu lebih dari 41⁰C dan kurang dari 34⁰C menunjukkan indikasi adanya kerusakan di pusat pengaturan hipotalamus.

Pengukuran suhu

  1. Oral

Termometer diletakkan di bawah lidah dimana terdapat arteri sublingual dan biasanya menunjukkan hasil pengukuran 0,5⁰ – 0,8⁰C di bawah suhu inti.

Kontra indikasi pengukuran suhu di oral:

1)      Klien tidak koperatif

2)      Bayi atau toddler

3)      Tidak sadar

4)      Dalam keadaan menggigil

5)      Orang yang biasa bernafas dengan mulut

6)      Pembedahan pada mulut

7)      Pasien tidak bisa menutup mulut

Untuk menjamin keakuratan hasil pengukuran, maka pengukuran suhu tubuh dilakukan 30 menit setelah klien:

a)      Mengunyah permen/permen karet.

b)      Merokok

c)      Makan dan minum panas atau dingin.

  1. Rektal

Berbeda 0,1⁰C dengan suhu inti.

Kontraindikasi :

1)    Diare

2)    Pembedahan rectal

3)    Clotting disorders

4)    Hemorrhoids

  1. Aksila

Hasil pengukuran 0,6⁰C lebih rendah dibandingkan suhu oral.Paling sedikit dilakukan, mudah dan nyaman.

Kontraindikasi :

1)        Pasien kurus

2)        Inflamasi local daerah aksila

3)        Tidak sadar, shock

4)        Konstriksi pembuluh darah perifer.

Ekuivalen Pengukuran Suhu

Oral                             : 37⁰C

Rectal (setara) : 37,5⁰C

Aksila (setara) : 36,4⁰C

  1. Telinga ( Aural)

Riset menunjukkan bahwa telinga pada membran timpani paling mendekati suhu inti tubuh. Dengan didasarkan fakta anatomi, yaitu :

1)      Membran  timpani hanya berjarak 3,8 cm dari hipotalamus.

2)      Darah pada arteri karotis interna dan eksterna, adalah pembuluh darah yang menyerupai hipotalamus dan membran timpani.

Peningkatan suhu tubuh

  1. Pyrexia:

          Istilah yang digunakan untuk menggambarkan suhu tubuh lebih tinggi dari set point   normal

  1. Fever (demam):

     Suhu tubuh > 37,4°C, dengan tanda dan gejala:

  1. Kulit kemerahan
  2. Gelisah
  3. irritibilitas (lekas marah)
  4. Tidak nafsu makan
  5. Pandangan menurun dan sensitif terhadap cahaya
  6. Banyak Keringat
  7. Sakit kepala
  8. Nadi dan RR meningkat
  9. Disorientasi dan bingung (jika suhu terlalu tinggi)
  10. Kejang pada infantdan anak-anak
  11. Hiperthermi

Suhu tubuh > 40,6°C, sangat beriko terjadi kerusakan otak bahkan kematian à kerusakan pusat pernafasan.

Tahapan demam:

  1. Fase Prodromal   : gejala tidak spesifik sebelum peningkatan suhu
  2. Onset or invasion phase (fase serangan): peningkatan suhu tubuh, menggigil

3. Stationary phase : demam menetap

4. Resolution phase : suhu kembali normal

Prosedur Pemeriksaan Suhu

  1. Pastikan frekuensi dan cara pemeriksaan suhu rectal sesuai dengan permintaan dokter atau rencana keperawatan ( nursing car plain).
  2. Identifikasi pasien
  3. Jelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien
  4. Pastikan termometer dalam keadaan siap pakai
  5. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bila ada indikasi.
  6. Pilih letak pemasangan termometer.
  7. Ikuti tahap-tahap pengukuran sesuai pedoman secara berurutan menyesuaikan dengan jenis termometer.
  8. Cuci tangan
  9. Catat hasil pengukuran.
  1. Nadi

     Nadi adalah sensasi denyutan seperti gelombang yang dapat dirasakan / dipalpasi di arteri perifer, terjadi karena gerakan atau aliran darah ketika konstraksi jantung.

     Nadi adalah gelombang darah yang dibuat oleh kontraksi ventrikel kiri jantung. Pada orang dewasa kontriksi jantung 60-100 x/mnt saat istrahat. Cardiac output adalah volume darah yang dipompakan ke dalam arteri oleh jantung = SVxHR. Nadi perifer adalah nadi yang berada jauh dari jantung, contoh: kaki, radialis, leher, nadi  apical. Nadi sentral: lokasinya di apex jantung.

Kecepatan Nadi (Pulse rate)

  1. Pulse Rate ( jumah denyutan perifer yang dirasakan selama 1 menit ) dihitung dengan menekan arteri perifer dengan menggunakan ujung jari.
  2. Takikardi  : nadi lebih dari 100-150 x/mnt.
  3. Palpitasi : perasaan berdebar-debar, sering menyertai takitardi.
  4. Bradikardi: denyut nadi kurang dari 60 xmenit. Kejadian ini lebih sedikit dibandingkan takikardia

       Denyut nadi sangat fluktuatif dan meningkat dengan :

  1. Latihan
  2. Sakit
  3. Trauma
  4. Emosi

       Faktor-faktor yang mempengaruhi nadi:

  1. Usia

Peningkatan usia, nadi berangsur-angsur menurun

  1. Jenis kelamin

            Pria sedikit lebih rendah daripada wanita (pria= 60-65x/menit ketika istirahat.

            Wanita:  7-8 x /menit lebih cepat.

  1. Circadian rhythm

Rata-rata menurun pada pagi hari dan meningkat pada siang dan sore hari

  1. Bentuk tubuh

Tinggi, langsing biasanya denyut jantung lebih pelan dan nadi lebih sedikit dibandingkan orang gemuk

  1. Aktifitas dan latihan

Nadi akan meningkat dengan aktifitas dan latihan, dan menurun dengan istirahat.

  1. Stress dan emosi

Rangsangan saraf simpatis dan emosi seperti cemas, takut, gembira meningkatkan denyut jantung dan nadi. Nyeri adalah stresor yang dapat memacu nadi lebih cepat

  1. Suhu tubuh

Setiap peningkatan 1⁰F: nadi meningkat 10x/menit, peningkatan 1⁰ C: nadi meningkat 15x/menit. Sebaliknya bila terjadi penurunan suhu tubuh, maka nadi akan menurun.

  1. Volume darah

            Kehilangan darah yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan nadi.

  1. Obat-obatan

Beberapa obat dapat menurunkan atau meningkatkan kontraksi jantung. Golongan digitalis dan sedative menurunkan denyut jantung. Cafeine, nikotin, kokain, hormon tiroid, adrenalin, dapat meningkatkan HR.

            Penghitungan nadi normal

USIA

RENTANG NORMAL

RATA-RATA

BBL

120 -160

140

1-12 bulan

80 – 140

120

1-2 tahun

80 – 130

110

3-6 tahun

75 – 120

100

7-12 tahun

75 – 110

95

Remaja

60 – 100

80

Dewasa

60 – 100

80

Irama nadi:

  1. Reguler:

Pola dan jarak waktu denyutan pada tiap denyutan teraba sama / teratur. Ini merupakan irama yang normal

  1. Irregular (arrhythmia / dysrhythmia)

Pola dan jarak waktu denyutan pada tiap denyutan teraba tidak sama / tidak teratur.

Pengukuran nadi:

  1. Temporal
  2. Carotid
  3. Apical
  4. Brachial
  5. Radial
  6. Femoral
  7. Poplitea
  8. Posterior tibial
  9. Dorsalis pedis
  1. Pernafasan

Adalah jumlah frekuensi pernafasan seseorang selama satu menit. Frekuensi pernafasan dihitung setiap satu gerakan inhalasi dan ekshalasi

Pola pernapasan

Pada orang dewasa normal, frekuensi pernapasan normal adalah12 – 20 x /menit, kedalaman dan iramanya teratur.

  1. Takipnea adalah peningkatan frekuensi pernapasan.
  2. Hiperpnea adalah peningkatan kedalaman pernapasan.
  3. Hiperventilasi adalah peningkatan baik dalam frekuensi maupun kedalaman dengan PCO2 rendah.
  4. Pernapasan Kussmaul adalah hiperventilasi yang ditandai oleh peningkatan frekuensi dan kedalaman pernafasan, yang berkaitan dengan diabetic asidosis berat atau yang bersumber dari ginjal.
  5. Pernapasan Cheyne-Stokes ditandai oleh perubahan episode apnea (hilangnya pernapasan) dan periode napas dalam.

Bunyi napas

Bunyi napas normal adalah vesikular, bronchial, dan bronkovesikular.

  1. Bunyi napas vesicular adalah bunyi yang tenang, dengan nada rendah yang mempunyai fase inspirasi panjang dan fase ekspirasi yang singkat.
  2. Bunyi napas bronchial adalah bunyi yang terdengar lebih keras dan dengan nada yang lebih tinggi disbanding bunyi vesicular, dimana fase ekspirasi lebih panjang disbanding fase inspirasi.
  3. Bunyi napas bronkovesikuler adalah bunyi napas dimana fase inspirasi dan ekspirasi sama.

       Bunyi tambahan.

  1. Krekels/rales adalah bunyi yang berlainan atau non kontinyu yang terjadi akibat penundaan pembukaan kembali jalan napas yang menutup:
    1. Krekels halus dapat terdengar pada akhir inspirasi.
    2. Krekels kasar mempunyai bunyi parau dan basah.
    3. Mengi (ronki) adalah bunyi berirama kontinyu yang durasinya lebih lama dibanding krekels. Dapat terdengar pada saat inspirasi, ekspirasi atau pada keduanya.

       Kelainan pernapasan:

  1. Dispnea adalah kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas pendek.
  2. Orthopnea adalah tidak dapat bernapas dengan mudah kecuali dalam posisi tegak.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan jumlah pernafasan:

  1. Latihan
  2. Peningkatan metabolisme
  3. Stress
  4. Peningkatan suhu lingkungan
  5. Penurunan konsentrasi oksigen

       Faktor-faktor yang menurunkan pernafasan:

  1. Penurunan suhu lingkungan
  2. Mendapatkan terapi jenis narkotika
  3. Peningkatan tekanan intra cranial
  1. Tekanan Darah

Tekanan darah adalah suatu ukuran tekanan yang dibuat darah saat bergerak melalui arteri tubuh.

Kerja jantung dapat dilihat melalui tekanan darah. Tekanan darah terdiri atas:

  1. Tekanan sistolik adalah tekanan paling tinggi yang dihasilkan ketika ventrikel kiri jantung berkontraksi. Ini adalah tekanan gelombang darah yang memasuki arteri.
  2. Tekanan diastolik adalah tekanan paling rendah yang dihasilkan ketika ventrikel kiri relaksasi. Ini adalah tekanan yang selalu ada dalam arteri.

Satuan tekanan darah adalah millimeter air raksa (mmHg).

Tekanan darah yang normal pada setiap orang berlainan. Oleh karena itu, perlu dikaji tekanan darah yang normal pada orang tertentu. Tetapi  jika terjadi kenaikan atau penurunan sebesar 20 sampai 30 mmHg atau lebih, maka perlu dikaji kembali apakah orang tersebut mempunyai gangguan dalam sistem sirkulasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah pada orang sehat adalah: usia, jenis kelamin, aktifitas dan emosi.

Mengukur tekanan darah:

  1. Pengertian:

Mengukur tekanan darah pasien dengan menggunakan alat sphygmomanometer dengan manset yang lazim disebut tensimeter.

  1. Tujuan:

Mengetahui nilai tekanan darah

  1. Indikasi:
  2. Pasien baru
  3. Perkembangan kondisi pasien
    1. Persiapan alat:
      1. Stetoscope
      2. Sphygmomanometer dengan manset
      3. Pena, pensil dan lembar kerja atau rekam medik
  1. Prosedur:
    1. Jelaskan tujuan dan prosedur pada pasien
    2. Cuci tangan
    3. Bantu pasien pada posisi yang nyaman:

1)  Duduk dengan lengan agak fleksi, lengan bawah disangga setinggi jantung, dan telapak tangan menghadap ke atas.

2)          Berbaring dengan posisi supine

  1. Gulung lengan baju pasien ke atas
  2. Pasang manset sphygmomanometer:

1)          Manset dipasang setinggi letak jantung

2)          Letakkan tepi bawah manset 2-3 cm di atas fossa cubiti

  1. Pastikan manometer terletak pada setinggi titik pandangan mata. Pengamat lurus berada kurang dari 1 meter.
  2. Naikkan tekanan dalam manset sambil meraba arteri radialis sampai denyutnya hilang
  3. Tekanan dinaikkan kurang lebih 30 mmHg
  4. Letakkan stethoscope pada arteri brakhialis pada fossa cubiti dengan cermat dan tentukan tekanan sistoliknya
  5. Turunkan tekanan dalam manset dengan kecepatan 4 mmHg/detik sambil mendengar hilangnya bunyi pembuluh darah yang mengikuti 5 fase korokof
  6. Ulangi pengukuran satu kali lagi dengan air raksa dalam sphygmomanometer dikembalikan pada angka nol, tunggu sampai 30 detik. Lakukan kembali tindakan seperti di atas
  7. Lepaskan manset dari lengan, lalu lipat manset dan simpan dengan benar.
  8. Bantu pasien untuk posisi yang diinginkan
  9. Cuci tangan
  10. Catat hasil pada lembar kerja atau rekam medik
  11. Tehnik nafas dalam
    1. Pengertian

            Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002).

  1. Tujuan

            Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri
    Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu :
    1. Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic.
    2. Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002)
    3. Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat

Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu.

  1. Prosedur

Prosedur teknik relaksasi napas dalam menurut Priharjo (2003)
Bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi.

Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut :

  1. Ciptakan lingkungan yang tenang
  2. Usahakan tetap rileks dan tenang
  3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3
  4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks
  5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
  6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan
    1. Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks
    2. Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam
    3. Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri
    4. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang
    5. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.
    6. Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat

Halo dunia!

•16 Oktober 2012 • 1 Komentar

Selamat datang di WordPress.com! Ini adalah postingan pertama Anda. Klik Sunting untuk memodifikasi atau menghapusnya, atau tulis postingan baru. Kalau mau, gunakan postingan ini untuk menyampaikan kepada para pembaca mengapa Anda membuat blog ini dan apa rencana Anda selanjutnya.

Selamat ngeblog!

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.