VERBATIM PASIEN TERMINAL DALAM PASTORAL CARE

VERBATIM UNTUK PASIEN TERMINAL

 

Setelah konselor masuk ke kamar konseli, konselor menutup pintu kamar sambil konseli sambil mengawali percakapan dengan berkata, “Selamat pagi.”

 

Ko       : (sambil berjalan menuju ke tempat tidur, lalu duduk di kursi berhadapan dengan konseli). Sebelumnya saya mau bertanya dahulu bagaimana kabar kamu? Tapi ini bukan basa-basi ya (sambil tersenyum bergurau)

Ki      : Iya, saya tahu (sambil tertawa). Kabar saya baik-baik saja, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ko     : Baguslah kalau begitu. Sekarang ceritakanlah sedikit kepada saya tentang bagaimana keadaan kesehatanmu?

Ki2    : Dari kemarin dia murung terus suster, tidak mau makan dan tidak mau minum. Apa-apa selalu salah untuk dia.

Ko     : Kamu katakana sedikit pada saya, apakah ini ada hubungannya dengan dengan sakitmu?

Ki      : (mengangguk)

Ko     : Saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Memang tidak mudah menerima kenyataan sakit seperti yang kamu alami. Tetapi kamu juga harus semangat untuk membantu proses penyembuhan penyakitmu.

Ki      : (sambil tetap cemerut). Suster sich ngomong aja gampang. Coba kalau suster mengalami seperti saya. Suster pasti juga berbuat yang sama seperti apa yang saya lakukan.

Ko     : (terdiam) Memang tidak mudah mengalami hal seperti kamu. Tapi kamu tidak boleh putus asa.

Ki      : Kenapa harus saya yang mengalami ini? Kenapa harus saya yang menderita seperti ini. Kenapa bukan orang lain? Apa salah saya?

Ko     : (sambil memegang tangan pasien) Tidak ada yang salah dengan dirimu. Semua yang ada pada dirimu baik-baik saja kok. Tuhan memberikan anugerah ini bukan karena Tuhan membenci kamu, tapi ini merupakan anugerah yang harus disyukuri. Katanya kamu selalu bersyukur pada Tuhan.

Ki      : Saya selalu bersyukur! Tapi menerima cobaan seperti ini saya juga harus bersyukur? Kapan dong penyakitnya pergi, kalau saya syukuri?

Ko     : Rejeki, jodoh, maut, semua Tuhan yang atur. Jadi bersyukur tidak hanya pada saat senang saja, tetapi pada saat dianugerahi cobaan, kita juga harus bersyukur. Kita tinggal berdoa saja, memohon pada Tuhan supaya kita kueat menghadapi cobaan ini.

Ki      : Tapi saat ini saya khan lagi sibuk ujian. Gimana saya bisa konsentrasi belajar, kalau kondisi saya seperti ini. Sepemtara yang lain bisa bermain, jalan-jalan dengan teman-temannya, bisa tertawa lepas. Sedangkan aku, bisanya Cuma terbaring di tempat tidur, tidak berdaya.

Ko     : Saya yakin, pasti kamu tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi sakt ini. Kamu orangnya baik, mudah bergaul dan pandai. Pasti nanti banyak teman-temanmu yang mau membantu kamu.

Ki      : Membantu? Itu khan pada saat saya sehat. Pada saat saya juga bisa sedikit membantu mereka? Tapi, sekarang? Saya tidak bisa erbuat apa-apa. Apakah teman-teman masih ada yang mau membantu saya?

Ko     : Loh, jangan salah. Teman-temanmu sangat baik sama kamu lho. Buktinya kemarin mereka ada yang datang meminjamkan catatannya untuk kamu. Itu sudah merupakan bukti baha teman-temanmu baik dan kamu sangat disayang oleh teman-temanmu.

Ki      : Ya, terimakasih. Saya pasti akan sangat membutuhkan bantuan dari teman-teman semua.

Ko     : Sekarang kamu terlihat begitu bersemangat. Bagaimana dengan program terapi selanjutnya?

Ki      : Saya tadinya takut dengan semua program terapi yang ditawarkan dokter. Masak saya masih muda harus menjalani kemoterapi dengan efeksamping dan risiko yang mengerikan. Terus, bagaiman nanti saya harus menghadapi perjumpaan dengan teman-teman? Mereka pasti mentertawakan saya, karena saya kurus, wajahnya jelek, rambutnya gundul. Wah, pasti semua orang senang mengejek saya.

Ko     : Lho, kenapa pikiranmu begitu? Kamu sudah mendapat bukti khan, kalau teman-temanmu baik? Mereka mau meminjamkan buku catatan, itu saja sudah merupakan bukti bahwa teman-temanmu baik. Saya yakin pasti teman-temanmu akan selalu membantu kamu di kampus, baik dalah perkuliahan maupun dalam penampilanmu.

Ki      : Bagaimana dengan rambutku yang gundul?

Ko     : Kamu khan bisa memakai tutup kepala. Apalagi masalahnya?

Ki      : Baik, saya pasti akan sangat membutuhkan bantuanmu. Saya akan menjalani terapi yang diprogramkan oleh dokter.

Ko     : Saya kagum dengan semangat yang kamu miliki. Pasti semangat itu yang mendorong kamu untuk tetap bersemangat menghadapi penyakitmu.

Ki      : Ya, kamu memang benar. Semangat itu mendorong saya juga untuk menghadapi masa-masa sulit yang saya alami.

Ko     : Kamu katakana tadi, masa-masa sulit. Memangnya apa yang terjadi?

Ki      : Saya masih muda, masih semangat untuk menggapai cita-cita. Saya merasa selalu hidup sehat, rajin ke gereja, rajin ikut kegiatan di kampung, berusaha bersikap baik kepada siapapun. Tapi saya harus mendengar berita bahwa saya menderita kanker darah. Padahal saya tahu, penyakit ini belum ada obatnya. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya merasa Tuhan tidak mendengarkan saya, saya merasa Tuhan itu tidak ada. Tapi keluarga sangat baik dengan saya. Mereka selalu mendampingi saya setiap saya. Mereka selalu mendoakan saya dan membesarkan hati saya. Itu yang membuat saya bersemangat.

Ko     : Syukurlah, kalau kamu sadar dengan peristiwa ini. Pasti hal ini tidak lepas dari dukungan orang tua dan keluargamu juga khan?

Ki      : Ya, mereka sangat mendukung saya. Sejak kecil mereka sangat mendukung saya.

          Saya yakin ini adalah rencana Tuhan. Sulit bagi saya sebelumnya untuk mengerti kenapa saya dianugerahi penyakit seperti ini. Tetapi kemudian saya sadar bahwa sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk saya.

Ko     : saya senang karena kamu mampu menilai setiap hal dan menarik pelajaran positif dari dalamnya.

Ki      : (konseli tersenyum)

Ko     : Dari keseluruhan percakapan ini saya senang karena kamu mampu menilai segala sesuatu secara positif dan tidak menyerah, meskipun kamu menghadapi permasalahan. Dan sekarang saya ingin bertanya kepadamu, apakah kamu mendapat manfaat dari percakapan ini?

Ki      : Ya, saya  senang dengan percakapan ini, karena kamu sudah bersedia mendengar semua cerita saya. Selain itu saya juga termotivasi dari percakapan ini untuk terus maju dan tidak menyerah dalam menjalankan hidup ini. Saya mendapat pelajaran yang berharga untuk saya lakukan dalam kehidupan saya.

Ko     : itulah yang saya harapkan terjadi dalam percakapan ini. Terakhir, sebelum kita mengakhiri percakapan ini, bolehkan saya berdoa untuk kamu:?

Ki      : Ya, tentu saja. Saya senang sekali kalau kamu mau berdoa untuk saya.

Ko     : Baiklah, marilah kita berdoa.

 

Percakapan pastoral selesai.

 

 

 

~ oleh yustinatripriyanti pada 17 Oktober 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: